Tuesday, October 5, 2010

Penerapan manajemen keperawatan di Puskesmas melalui manajemen kinerja klinik

ABSTRAK

Perawat selama ini sering disebut sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan. Jumlahnya yang cukup besar yakni sekitar 40 % dari keseluruhan tenaga kesehatan yang ada seharusnya mampu memberi warna pada upaya peningkatan derajat kesehatan di Indonesia.
Namun pada kenyataannya profesi perawat sering dianggap sebagai pelengkap. Hal ini tidak terlepas dari hampir semua perawat yang bekerja di institusi pelayanan kesehatan melakukan tugasnya hanya sebagai rutinitas semata tanpa upaya pengembangan dan inovasi. Tidak hanya di Rumah Sakit, perawat di Puskesmas yang semestinya memiliki lahan garap yang lebih luas malah terjebak dalam rutinitas yang sebagian besar bukan merupakan tugas pokok dan fungsi seorang perawat.
Mutu pelayanan di Puskesmas tidak terlepas dari peran perawat dan mutu pelayanan keperawatan sangat terkait dengan kinerja klinik perawat. Dibutuhkan peningkatan profesionalisme perawat mulai dari peningkatan kompetensi sesuai keilmuan, pelaksanaan asuhan keperawatan sesuai standart, asuhan keperawatan yang berorientasi kepada klien dan mematuhi kode etik keperawatan.
Untuk peningkatan profesionalisme, salah satunya dengan manajemen kinerja klinik tenaga keperawatan. Yang termasuk manajemen kinerja klinik adalah penyusunan standart operating procedure, indikator kinerja klinik, uraian tugas, diskusi refleksi kasus, monitoring dan evaluasi.
Diharapkan dengan manajemen kinerja klinik, kontribusi profesi keperawatan terhadap peningkatan derajat kesehatan akan meningkat.



Kata kunci: perawat, profesionalisme, kinerja klinik.










PENDAHULUAN

Tuntutan masyarakat terhadap kualitas pelayanan keperawatan dirasakan sebagai suatu fenomena yang mengharuskan perawat meningkatkan kompetensinya sehingga mampu menjawab tantangan ini dengan baik. Pelayanan keperawatan yang profesional dengan kemampuan mumpuni dan taat pada kode etik profesi tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban, namun juga sebagai kebutuhan dari profesi perawat itu sendiri.
Trend dan issue yang berkembang sekarang ini mengharuskan perawat untuk banyak melakukan inovasi dan pembaharuan. Bila perawat tidak inovatif maka perubahan yang dialaminya akan terjadi karena terpaksa. Suatu keterpaksaan yang diakibatkan oleh perubahan di sekitar dunia keperawatan itu sendiri. Namun alangkah lebih baik apabila perubahan dalam profesi keperawatan muncul sebagai inisiatif profesi perawat sendiri.
Perawat di Indonesia tersebar di berbagai pelayanan kesehatan baik yang merupakan institusi pemerintah maupun institusi swasta. Yang banyak mendapat perhatian selama ini adalah pelayanan keperawatan di Rumah Sakit atau Klinik swasta, namun tidak dengan pelayanan keperawatan di Puskesmas. Hal ini terlihat dari literatur yang tersedia, lebih banyak membahas tentang tugas dan fungsi perawat di Rumah Sakit. Puskesmas sebagai unit pelayanan strata pertama sebenarnya merupakan tempat yang paling ideal bagi perawat khususnya untuk aplikasi perawatan kesehatan keluarga dan komunitas. Apalagi sejak dulu perawat mendapat predikat sebagai “ujung tombak” pembangunan kesehatan. Jadi agar “ujung tombak” bisa berfungsi dengan baik, maka perawat yang berada di puskesmas harus mampu meningkatkan mutu kinerjanya.
Tidak bisa dipungkiri bahwa tugas perawat di Puskesmas tidak sama dengan di Rumah Sakit atau klinik. Perawat di Puskesmas selain memberikan pelayanan di dalam gedung juga memberikan pelayanan di luar gedung. Ditambah lagi dengan beberapa tugas rangkap yang disebabkan kurangnya tenaga di Puskesmas. Banyak perawat yang harus melaksanakan tugas administratif yang seharusnya menjadi tugas staf administrasi. Bahkan di banyak Puskesmas Pembantu, perawat seringkali melakukan tindakan yang sebenarnya merupakan fungsi dependent dari tenaga keperawatan. Mengingat hal tersebut, perlu suatu manajemen yang tepat agar perawat di Puskesmas bisa menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Manajemen keperawatan yang paling tepat adalah manajemen yang didasarkan pada “Total Quality Management” di mana “zero defect” adalah keharusan di setiap tahap manajerialnya.
Manajemen kinerja klinik, merupakan suatu upaya peningkatan kemampuan manajerial dan kinerja perawat dalam memberikan pelayanan di institusi pelayanan kesehatan untuk mencapai pelayanan yang bermutu. Komponen yang ada dalam manajemen kinerja klinik sangat tepat memandu perawat untuk meningkatkan kinerjanya sesuai dengan tugas dan fungsi keprofesiannya.
Manajemen kinerja klinik juga mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan prosedur. Hal ini disebabkan dalam manajemen kinerja klinik, semua kegiatan yang dilaksanakan harus sesuai dengan prosedur operasional standar dan para perawat bekerja sesuai dengan uraian tugasnya. Bila ada suatu masalah dalam pelaksanaan kegiatan, maka hal tersebut dibahas dalam diskusi refleksi kasus dan selalu dilakukan monitoring oleh tim manajer.
Manajemen kinerja klinik pada dasarnya sejalan dengan manajemen keperawatan. Manajemen keperawatan yang telah diajarkan di institusi pendidikan dan merupakan konsep manajerial modern bagi perawat juga dimulai dari pengumpulan data, perancanaan, organising dan controlling. Semua bagian dari manajemen kinerja klinik juga merupakan bagian dari manajemen keperawatan, meskipun dalam istilah atau sebutan yang berbeda. Oleh karena itu, manajemen kinerja klinik merupakan jalan bagi perawat di Puskesmas untuk bisa menjadi perawat profesional yang mumpuni dan menghasilkan kinerja bermutu.
Diharapkan dengan manajemen kinerja klinik, perawat mampu melaksanakan tugasnya sesuai dengan uraian tugas yang tepat dan mengacu pada prosedur operasional yang standar. Selain itu fungsi perawat sebagai inovator, educator dan peneliti akan bisa diwujudkan, tentunya dalam suatu rangkaian manajemen yang baik dan menghasilkan kinerja bermutu prima.








PEMBAHASAN

Manajemen Kinerja Klinik
Konsep dasar manajemen kinerja klinik
Manajemen kinerja klinik adalah suatu upaya peningkatan kemampuan manajerial dan kinerja perawat dalam memberikan pelayanan di institusi pelayanan kesehatan untuk mencapai pelayanan yang bermutu (Depkes RI, 2005).
Manajemen kinerja klinik didasarkan pada profesionalisme perawat, ilmu pengetahuan dan teknologi, aspek legal formal serta landasan etika. Manajemen kinerja klinik dilaksanakan dengan tujuan meingkatkan mutu pelayanan perawat di institusi pelayanan kesehatan.
Dalam penerapan manajemen kinerja klinik perawat diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, mematuhi standar yang ditetapkan, mempunyai kemampuan manajerial yang baik, melaksanakan asuhan keperawatan yang bermutu dan pada akhirnya mampu memenuhi harapan masyarakat dalam hal pelayanan kesehatan yang bermutu.

(sumber: Kep.Menkes no.836 tahun 2005)
Manajemen kinerja klinik dilaksanakan berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 836 Tahun 2005 tentang pedoman pengembangan manajemen kinerja perawat dan bidan. Adapun komponen dari manajemen kinerja klinik adalah:
1) Standar
2) Uraian tugas
3) Indikator kinerja
4) Diskusi refleksi kasus
5) Monitoring

Standar
Standar menurut PP 102 tahun 2000 adalah spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat – syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar – besarnya.
Standar yang berbasis pada sistem manajemen kinerja mempunyai ciri SMART yaitu:
1) Spesifik (spesific)
2) Terukur (measurable)
3) Tepat (appropriate)
4) Handal (reliable)
5) Tepat waktu (timely)
Standar yang dikembangkan dengan baik akan memberikan ciri ukuran kualitatif yang tepat seperti yang tercantum dalam standar pelaksanaannya. Standar selalu berhubungan dengan mutu karena standar menentukan mutu. Standar dibuat untuk mengarahkan cara pelayanan yang akan diberikan serta hasil yang ingin dicapai.
Dalam manajemen kinerja klinik dikenal 3 macam standar yaitu:
1) Standar struktur
2) Standar proses
3) Standar outcomes.
Standar struktur adalah karakteristik organisasi dalam tatanan asuhan yang diberikan. Standar ini sama dengan standar input yang meliputi: filosofi, organisasi dan administrasi, kebijakan dan peraturan, staffing dan pembinaan, job description, fasilitas dan peralatan.
Standar prosedur, merupakan kegiatan dan interaksi antara pemberi dan penerima asuhan. Standar ini berfokus pada kinerja dari petugas profesional di tatanan klinis mencakup:
1) Fungsi, tugas, tanggung jawab dan akontabilitas
2) Manajemen kinerja klinis
3) Monitoring dan evaluasi kinerja klinis
Standar outcomes adalah hasil asuhan dalam kaitannya dengan status pasien. Standar ini berfokus pada asuhan keperawatan terhadap pasien yang bermutu prima
Dalam manajemen kinerja klinik dikenal juga yang disebut standart operational procedure (SOP). SOP adalah suatu perangkat instruksi atau langkah – langkah kegiatan yang dibakukan untuk memenuhi kebutuhan tertentu klien (Depkes RI, 2004). SOP dibuat untuk mengarahkan serangkaian kegiatan asuhan keperawatan untuk mencapai tujuan yang efisien dan efektif sehingga konsisten dan aman dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan melalui pemenuhan standar yang berlaku.
SOP harus tertulis dan disepakati dalam suatu tatanan praktek / klinik. SOP harus memuat komponen struktur, proses dan outcomes. SOP harus berorientasi pada pelanggan dan disahkan oleh pemegang kebijakan.

Uraian tugas (Job description)
Uraian tugas adalah seperangkat fungsi, tugas dan tangung jawab yang dijabarkan ke dalam kegiatan pekerjaan. Bisa juga diartikan sebagai pernyataan tertulis untuk semua tingkatan jabatan dalam satu unit yang menggambarkan fungsi, tanggung jawab dan kualitas yang dibutuhkan.
Uraian tugas dapat menjadi rintangan bila tidak akurat, tidak lengkap dan kadaluarsa. Penulisan uraian tugas yang sempurna dapat menjadi aset dan dapat menggambarkan jabatan dalam organisasi kerja yang memberikan pandangan operasional secara keseluruhan dan menunjukkan bahwa uraian tugas telah dirancang dan dianalisa sebagai suatu bagian intergral dari pelayanan organisasi kerja. Perawat harus memelihara agar pekerjaan yang dilakukan tetap relevan dengan uraian tugas melalui perbaikan secara periodik dan sistematis.
Dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien, sebagian besar dilakukan oleh tenaga perawat. Namun masih banyak ditemukan perawat melakukan tugas non keperawatan yang tentunya mengurangi pelayanan keperawatan yang seharusnya dilakukannya. Di samping itu kegiatan non keperawatan juga dapat mengaburkan uraian tugas perawat baik dalam jabatan maupun tanggungjawabnya sebagai perawat klinik.
Sebelum membuat suatu uraian tugas, maka perlu dinilai kewajaran dan beban kerja masing – masing perawat. Masalah kewajaran dan beban kerja dapat diketahui dengan cara menghitung beban kerja perawat.
Prinsip penulisan uraian tugas adalah:
1) Mengidentifikasi fungsi dan tugas yang telah ditetapkan
2) Membuat urutan tugas secara logis dan jelas
3) Mulai dengan kalimat aktif
4) Menggunakan kata kerja

Indikator kinerja
Indikator adalah pengukuran tidak langsung terhadap suatu peristiwa (event) atau suatu kondisi( Wilson & Sapanuchart, 1993) misalnya berat badan bayi pada umurnya adalah indikator status nutrisi bayi tersebut. Green (1992) memberikan pengertian indikator adalah variabel yang menunjukkan satu kecenderungan situasi yang dapat dipergunakan untuk mengukur perubahan. Ada dua kata kunci penting dalam pengertian tersebut yaitu pengukuran dan perubahan. Untuk mengukur tingkat hasil suatu kegiatan digunakan indikator sebagai alat atau petunjuk untuk mengukur prestasi pelaksanaan kegiatan tersebut.
Indikator yang berfokus pada hasil asuhan kepada pasien dan proses – proses kunci serta spesifik disebut indikator klinik. Indikator klinik adalah ukuran kuantitas sebagai pedoman untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas asuhan pasien dan berdampak terhadap pelayanan. Indikator tidak dipergunakan secara langsung untuk mengukur kualitas pelayanan tetapi dianalogkan sebagai “bendera” yang menunjukkan adanya suatu masalah spesifik dan memerlukan monitoring dan evaluasi.
Kinerja (performance) dalam konteks tugas, sama dengan prestasi kerja. Para pakar banyak memberikan definis tentang kinerja secara umum. Berikut ini beberapa di antaranya:
1) Kinerja adalah catatan tentang hasil – hasil yang diperoleh dari fungsi – fungsi pekerjaan atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu (Bernardin dan Russel, 1993)
2) Kinerja adalah keberhasilan seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan (As’ad, 1991)
3) Kinerja adalah pekerjaan yang merupakan gabungan dari karakteristik pribadi dan pengorganisasian seseorang (Kurb, 1986)
4) Kinerja adalah apa yang dapat dikerjakan sesuai dengan tugas dan fungsinya (Gilbert, 1977)
Pada dasarnya kinerja menekankan pada apa yang dihasilkan dari fungsi – fungsi suatu pekerjaan atau apa yang keluar (out come). Bila disimak lebih lanjut apa yang terjadi dalam sebuah pekerjaan atau jabatan adalah suatu proses yang mengolah input menjadi output (hasil kerja).
Penggunaan indikator kunci untuk mengukur hasil kinerja individu bersumber dari fungsi – fungsi yang diterjemahkan dalam kegiatan / tindakan dengan landasan standar yang jelas dan tertulis. Mengingat kinerja mengandung komponen kompetensi dan produktivitas hasil, maka hasil kinerja sangat bergantung pada tingkat kemampuan individu dalam pencapaiannya.
Syarat – syarat indikator kinerja adalah:
1) Spesifik dan jelas sehingga dapat dipahami dan tidak ada kemungkinan kesalahan interpretasi
2) Dapat diukur secara obyektif baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif yaitu dua atau lebih yang mengukur indikator kinerja mempunyai kesimpulan yang sama.
3) Relevan, indikator kinerja harus menangani aspek – aspek obyektif yang relevan.
4) Dapat dicapai, penting dan harus berguna untuk menunjukkan keberhasilan masukan, keluaran, hasil, manfaat dan dampak setiap proses.
5) Harus cukup fleksibel dan sensitif terhadap perubahan / penyesuaian pelaksanaan dan hasil pelaksanaan kegiatan
6) Efektif, data / informasi yang berkaitan dengan indikator kinerja yang bersangkutan dapat dikumpulkan, diolah, dianalisis dengan biaya yang tersedia
Diskusi refleksi kasus
Diskusi refleksi kasus adalah suatu metode pembelajaran dalam merefleksikan pengalaman perawat yang aktual dan menarik dalam memberikan dan mengelola asuhan keperawatan di lapangan melalui suatu diskusi kelompok yang mengacu pada pemahaman standar yang ditetapkan.
Diskusi refleksi kasus bermanfaat dalam mengenbangkan profesionalisme perawat, meningkatkan aktualisasi diri, membangkitkan motivasi belajar, wahana untuk menyelesaikan masalah dengan mengacu pada standar keperawatan yang telah ditetapkan, belajar untuk menghargai kolega untuk lebih sabar, lebih banyak mendengarkan, tidak menyalahkan, tidak memojokkan dan meningkatkan kerja sama.
Langkah pertama dalam kegiatan diskusi refleksi kasus adalah pemilihan atau penetapan kasus yang akan didiskusikan. Adapun topik yang bisa didiskusikan dalam diskusi refleksi kasus antara lain: pengalaman pribadi perawat yang aktual dan menarik dalam menangani kasus di lapangan, pengalaman dalam mengelola pelayanan keperawatan dan isu – isu strategis, pengalaman yang masih relevan untuk dibahas dan akan memberikan informasi berharga untuk meningkatkan mutu pelayanan.
Setelah topik dipilih, maka dilanjutkan dengan penyusunan jadwal kegiatan diskusi refleksi kasus. Jadwal kegiatan diskusi refleksi kasus adalah daftar kegiatan yang harus dilaksanakan dalam kurun waktu yang telah ditetapkan dan disepakati. Kegiatan diskusi refleksi kasus disepakati dalam kelompok kerja di Puskesmas. Dan selanjutnya diskusi refleksi kasus ini bisa dilaksanakan. Kegiatan diskusi refleksi kasus dilakukan minimal satu kali dala satu bulan dan sebaiknya jadwal disusun untuk kegiatan satu tahun. Dengan demikian para peserta yang telah ditetapkan akan mempunyai waktu yang cukup untuk mempersiapkannya.
Proses diskusi ini akan memberikan ruang dan waktu bagi setiap peserta untuk merefleksikan pengalaman, pengatahuan serta kemampuannya dan mengarahkan maupun meningkatkan pemahaman perawat terhadap standar yang akan memacu mereka untuk melakukan kinerja yang bermutu

Monitoring
Monitoring adalah suatu proses pengumpulan dan menganalisis informasi dari penerapan suatu program termasuk mengecek secara reguler untuk melihat apakah kegiatan / program itu berjalan sesuai rencana sehingga masalah yang dilihat atau ditemui dapat diatasi. (WHO dalam Depkes RI, 2005)
Sistem monitoring indikator kinerja klinis perawat sangat diperlukan untuk meningkatkan serta mempertahankan tingkat kinerja yang bermutu. Melalui monitoring, akan dapat dipantau penyimpangan – penyimpangan yang terjadi. Penyimpangan harus dikelola dengan baik oleh manajer perawat untuk diluruskan kembali agar kegiatan yang dilakukan sesuai dengan standar.
Ada tiga indikator kinerja perawat yang perlu dimonitor :
1) Indikator kinerja administratif, meliputi pendokumentasian asuhan keperawatan, segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan administratif termasuk pencatatan dan pelaporan
2) Indikator kinerja klinis, meliputi pelaksanaan kegiatan atau aktifitas langsung terhadap pasien
3) Pengembangan staf, berkaitan dengan pengembangan kemampuan klinis staf (pengetahuan, keterampilan dan sikap) yang dapat dilakukan secara rutin antara lain melalui diskusi refleksi kasus.
Monitoring sangat diperlukan dalam suatu sistem manajemen dan hasilnya merupakan feed back bagi manajemen untuk lebih meningkatkan rencana operasional serta mengambil langkah – langkah perbaikan. Oleh karena itu manajer diharapkan memiliki sistem monitoring yang baik sehingga penyimpangan yang terjadi akan dapat dikelola dengan tepat, cepat dan dapat dilakukan upaya perbaikan dengan segera. Dengan melakukan monitoring secara periodik sesuai dengan kebutuhan, maka pelayanan keperawatan dapat ditingkatkan mutunya secara terus menerus.

Manajemen Keperawatan di Puskesmas Melalui Manajemen Kinerja Klinik
Manajemen menurut Gillies (1986) yang diterjemahkan oleh Dika Sukmana dan Rika Widya Sukmana (1996) adalah suatu proses dalam menyelesaikan pekaryaan melalui orang lain, sedangkan manajemen keperawatan adalah suatu proses bekerja melalui anggota staf keperawatan untuk memberikan asuhan keperawatan secara profesional. Manajer keperawatan dituntut untuk merencanakan, mengorganisasikan, memimpin dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersedia untuk dapat memberikan asuhan keperawatan yang seefektif dan seefisien mungkin bagi individu, keluarga, dan masyarakat.
Selama ini manajemen keperawatan tidak dijalankan dengan baik di Puskesmas. Berbeda dengan di Rumah Sakit atau klinik swasta. Memang manajemen Puskesmas secara umum telah diatur oleh pemerintah termasuk pencatatan dan pelaporannya. Namun tugas pokok dan fungsi perawat sebagai pelaksana asuhan keperawatan sangat jarang tersentuh pada aplikasinya. Oleh karena itu tidak mengherankan bila Institusi pendidikan lebih memilih Rumah Sakit sebagai lahan praktik manajemen keperawatan. Tentunya adalah sebuah kerugian besar apabila tenaga profesional dengan gelar Profesi (Ners) kurang tahu langkah apa yang harus dilakukan untuk manajerial keperawatan di Puskesmas.
Departemen (sekarang Kementerian)Kesehatan pada tahun 2005 mengeluarkan keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 836 tahun 2005 tentang pedoman pengembangan manajemen kinerja perawat dan bidan. Hal ini seharusnya menjadi jalan terbaik agar manajemen keperawatan bisa diaplikasikan dengan baik dan menghasilkan pelayanan keperawatan yang bermutu.
Manajemen keperawatan dan manajemen kinerja klinis pada dasarnya sama dan hanya mempunyai perbedaan dalam istilah yang dipakai.
manajemen keperawatan sama dengan manajemen kinerja klinis baik dalam tahapan maupun unsur yang menjadi bagian – bagiannya. Manajemen keperawatan terdiri dari 3 tahapan yaitu masukan (input), proses (process) dan keluaran (output).
Dalam manajemen kinerja klinik terdapat standar, hal ini mencakup standar, sistem, prosedur, anggaran, peralatan, persediaan yang merupakan bagian – bagian dari pengumpulan dan perencanaan. Dalam manajemen kinerja klinik juga terdapat uraian tugas, hal ini mencakup personalia, organisasi, deskripsi kerja, kerjasama tim dalam manajemen keperawatan. Indikator kinerja mencakup evaluasi tugas, pengambilan keputusan, mempengaruhi keputusan, mempengaruhi perubahan, audit pasien, penilaian prestasi. Khusus untuk diskusi refleksi kasus, mempunyai istilah yang dikenal sebagai Nursing Round (ronde keperawatan). Namun sebenarnya diskusi refleksi kasus mencakup organisasi, evaluasi tugas, kerjasama tim, pemecahan masalah, pengembangan staf dan penelitian. Monitoring mencakup evaluasi tugas, minimalisasi ketidakhadiran, penurunan pergantian, pemecahan masalah, menangani konflik, komunikasi dan analisis transaksional, sistem informasi komputer.
Dalam manajemen kinerja klinis ada beberapa keterampilan dan teknik yang harus dikuasai yaitu learning organisation dan coaching. Learning organisation adalah suatu kemampuan yang harus dimiliki oleh perawat primer. Dengan learning organisation perawat primer akan mampu mengorganisir perawat asociated yang dipimpinnya. Coaching adalah kemampuan yang sudah seharusnya dimiliki oleh semua perawat, karena salah satu peran perawat adalah sebagai educator atau pendidik. Jadi selain mendidik mahasiswa keperawatan, perawat juga memberikan pendidikan kepada perawat yang lebih junior dan tim kesehatan lainnya.
Dari kerangka konsep manajemen kinerja klinik dan manajemen keperawatan, hampir semua bagiannya sama. Jadi pada dasarnya manajemen klinik adalah manajemen keperawatan. Dan hal ini merupakan peluang bagi para perawat untuk meningkatkan mutu kinerjanya, khususnya di Puskesmas.





KESIMPULAN

Manajemen kinerja klinik adalah manajemen keperawatan yang telah ditetapkan dengan produk peraturan perundangan yaitu Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 836 tahun 2005. Namun pelaksanaannya belum optimal di Puskesmas. Ditambah lagi, sistem pendidikan formal keperawatan kurang memberikan porsi pendidikan manajerial di Puskesmas.
Manajemen kinerja klinik sama dengan manajemen keperawatan baik dari kerangka konsep maupun elemen penyusunnya. Meskipun ada perbedaan istilah, namun substansinya sama. Keduanya mempunyai tujuan menghasilkan layanan keperawatan yang bermutu.
Puskesmas sebagai unit pelaksana teknis di Dinas Kesehatan sangat membutuhkan manajemen kinerja klinis untuk meningkatkan mutu layanannya. Perawat sebagai personel dengan kemampuan teknik dan berjumlah banyak menjadi tulang punggung upaya perbaikan mutu. Oleh karena itu manajemen kinerja klinik sangat dibutuhkan di Puskesmas.

Friday, June 5, 2009

Pengaruh Angiotension terhadap tekanan darah

RAAS (renin-angiotensin-aldosterone system) memainkan peran penting dalam pengaturan volume darah dan tahanan system vaskuler, dimana keduanya bersama mempengaruhi cardiac output dan tekanan arterial.

Sebagaimana disebutkan dalam namanya, ada 3 komponen penting dalam system ini yaitu :

1) Renin

2) Angiotensin

3) Aldosterone.

Renin, yang secara utama dilepaskan oleh ginjal, menstimulasi bentuk dari angiotensin dalam darah dan jaringan, yang merubah stimulasi pelepasan aldosterone dari corteks adrenal

Renin adalah enzyme proteolytic yang dilepaskan ke dalam sirkulasi utamanya oleh ginjal. Pelepasannya distimulasi oleh :

1) Aktivasi saraf sympathetic (diaktifkan melalui b1-adrenoceptors)

2) Hypotensi arteri renalis (disebabkan hipotensi sistemik atau stenosis arteri renalis)

3) Penurunan pengiriman sodium ke tubulus distal dari ginjal.

Ketika renin dilepaskan ke dalam darah, beraksi atas substrat sirkulasi yaitu angiotensinogen yang diubah menjadi angiotensin I. Endotel Vaskuler, khususnya dalam paru, memiliki enzym yaitu angiotensin converting enzyme (ACE) yang mengubah angiotension I menjadi angiotensin II.

Ketika tekanan darah rendah, ginjal mengeluarkan renin. Rennin merangsang aktivasi RAAS seperti yang telah disebutkan diatas. Angiotensin II menyebabkan konstriksi dari pembuluh darah yang pada akhirnya menyebabkan peningkatan tekanan darah. Angiotensin II juga merangsang sekresi hormon aldosterone dari korteks adrenal. Aldosterone menyebabkan tubulus ginjal menahan sodium air. Peningkatan volume cairan dalam tubuh ini, juga menaikkan tekanan darah.

Jika sistem renin-angiotensin-aldosterone terlalu aktif, tekanan darah akan terlalu tinggi. Ada banyak obat yang menghambat langkah – langkah dari sistem ini untuk menurunkan tekanan darah. Obat – obat ini merupakan satu dari beberapa langkah penting dalam upaya mengontrol tekanan darah tinggi (hipertensi), gagal jantung, gagal ginjal dan efek berbahaya dari diabetes melitus.

Askep Bells Palsy

Pengertian

Bell's palsy merupakan kelumpuhan (relatif) mendadak otot-otot wajah sesisi; dapat mencemaskan karena umumnya terjadi tanpa gejala pendahuluan dan menyebabkan wajah miring/mencong sehingga dikacaukan dengan gejala gangguan peredaran darah otak (stroke).

Berbeda dari Gangguan Peredaran Darah Otak, kelumpuhan wajah sesisi ini tidak dibarengi dengan kelumpuhan anggota badan/tubuh lainnya.

Web Of Causen









Penyebab

Bell's palsy disebabkan oleh pembengkakan n. facialis sesisi; akibatnya pasokan darah ke saraf tersebut terhenti, menyebabkan kematian sel sehingga fungsi menghantar impuls/rangsangnya terganggu; akibatnya perintah otak untuk menggerakkan otot-otot wajah tidak dapat diteruskan.

Kausanya tidak diketahui, umumnya dianggap akibat infeksi semacam virus herpes simpleks. Virus tersebut dapat dormant (`tidur') selama beberapa tahun, dan akan aktif jika yang bersangkutan terkena stres fisik ataupun psikik. Sekalipun demikian Bell's palsy tidak menular.

Gejala

Otot-otot wajah satu sisi lumpuh sehingga wajah menjadi miring/mencong, kelopak mata tidak dapat menutup sehingga bola mata akan berair terus-menerus, sebaliknya akan kering di malam hari (jika tidur).

Kesulitan berbicara dapat terjadi akibat mulut/bibir yang tertarik ke satu sisi. Kadang-kadang kemampuan mengecap/merasa juga terganggu dan suara-suara terdengar lebih keras di satu sisi yang terkena.

Kelompok yang rentan terhadap Bell's palsy

- Remaja usia 20-an

- Lanjut usia setelah 60 tahun.

- Wanita hamil

- penderita diabetes melitus

- pasca flu

Bagaimana pengobatannya

Kebanyakan akan pulih tanpa pengobatan dalam 2 minggu; tetapi umumnya digunakan kortikosteroid seperti prednison dan antivirus seperti asiklovir dalam 2 ­ 3 hari pertama; pengobatan dini dengan cara ini memperbaiki prognosis sampai 20%.

Kira-kira 70% sembuh dalam beberapa bulan, 15% masih merasa sedikit kelemahan. Pada kira-kira 10 ­ 20% pasien, Bell's palsy dapat terulang

Kemungkinan Diagnose Keperawatan

Perubahan Body image b/d kelumpuhan otot wajah

Cemas b/d kurang pengetahuan tentang penyakit dan prosedur pengobatan

Kurang pengetahuan b/d tidak terpajan informasi

Intervensi Keperawatan

Diagnose Keperawatan : Perubahan Body image b/d kelumpuhan otot wajah

Tujuan : Body image kembali baik

Kriteria hasil :

- Pasien mengungkapkan bahwa dirinya menerima kondisi yang ada pada dirinya (kelumpuhan otot wajah)

- Pasien tidak mengalami kecemasan (dengan skala HARS)

- Pasien mampu melaksanakan peran dengan kondisi baik pada semua fungsi bio – psiko – sosial.

Intervensi

- Bina hubungan saling percaya

Rasional : agar bisa terbina hubungan terapeutik

- Jelaskan tentang penyakit, penyebab dan prognosisnya

Rasional : agar pasien tidak cemas dan kooperatif dalam pelaksanaan tindakan keperawatan

- Bantu pasien untuk mengungkapkan konsep dirinya secara utuh

Rasional : untuk mengetahui perkembangan status kesehatan pasien khususnya konsep diri dan sebagai dasar pelaksanaan tindakan selanjutnya

- Bantu pasien untuk melakukan koping adaptif

Rasional : koping adaptif akan membantu seseorang menghindari stres yang berlarut – larut dan tetap bisa melakukan tindakan asertif

Asuhan Keperawatan Vertigo

I. Diagnosis Medis

Vertigo adalah perasaan seolah-olah penderita bergerak atau berputar, atau seolah-olah benda di sekitar penderita bergerak atau berputar, yang biasanya disertai dengan mual dan kehilangan keseimbangan. vertigo bisa berlangsung hanya beberapa saat atau bisa berlanjut sampai beberapa jam bahkan hari. penderita kadang merasa lebih baik jika berbaring diam, tetapi vertigo bisa terus berlanjut meskipun penderita tidak bergerak sama sekali.

Kausa vertigo sendiri dibagi menjadi 2 kelompok yaitu:

1. Vestibuler

a. Drugs: alkohol

b. Fisiologis: motion sickness

c. Vestibular neuronitis

d. Meniere's disease

e. Labyrnthitis

f. Post-traumatic vertigo

g. Perilymphatic fistula

2. Non-vestibuler (sentral)

a. Cerebeller hemorrhage

b. Brainstem ischemic attacks

c. Basilar artery migrane

d. Posterior fossa tumors

e. Multiple sclerosis.

Berdasarkan gejala klinis vertigo dapat dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu:

1. Vertigo Paroksismal

ialah vertigo yang datang serangannya mendadak, berlangsung selama beberapa menit atau hari, kemudian menghilang sempurna, namun suatu ketika serangan tersebut muncul kembali.

2. Vertigo kronis

Vertigo yang menetap lama, keluhannya konstan tidak membentuk serangan-serangan akut.

3. Vertigo akut

Vertigo yang datang serangannya mendadak/akut, berangsur mengurang tetapi pasien tidak pernah bebas sama sekali dari keluhan

Vertigo dapat terjadi tiba-tiba dan berlangsung sebentar, tapi dapat pula terjadi selama beberapa hari. Mereka dengan vertigo yang berat bisa jadi tak dapat bangun dari tempat tidur dan hal ini akan mempengaruhi aktivitasnya sehari-hari. Untuk itu, gejala vertigo dapat bervariasi tergantung berat ringannya. Gejala yang dapat dirasakan antara lain:

  • Tempat pasien berpijak terasa berputar atau bergerak-gerak
  • Mual
  • Muntah
  • Sulit berdiri atau berjalan
  • Sensasi kepala terasa ringan
  • Tak dapat memfokuskan pandangan

II. Web Of Causen










III. Penatalaksanaan

Untuk penatalaksanaannya dibagi menjadi:

1 Terapi kausal

sebagian besar kausa vertigo tidak diketahui penyebabnya, sehingga terapi biasanya bersifat simtomatik. Terapi kausal disesuaikan dengan faktor penyebabnya.

2. Terapi simtomatik

ditujukan kepada 2 gejala utama yaitu rasa berputar dan gejala otonomnya. Pemilihan obat-obat anti vertigo tergantung pada efek obat bersangkutan, berat ringan vertigo dan fasenya. Misalnya pada fase akut dapat diberikan obat penenang untuk menghilangkan rasa cemas, disamping anti vertigo lainnya.

3. Terapi Rehabilitasi

Bertujuan untuk membangkitkan dan meningkatkan kompensasi sentral dan habituasi pada pasien dengan gangguan vestibuler. Beberapa bentuk latihan yang dapat dilakukan adalah latihan vestibuler, latihan visual vestibuler atau latihan berjalan.

IV. Fokus Pengkajian

1) Keluhan Utama

Merasa pusing, tempat berpijak berputar atau bergerak-gerak,Sulit berdiri atau berjalan, kepala terasa ringan, tak dapat memfokuskan pandangan, Mual Muntah

2) Riwayat Kesehatan

· Adanya riwayat trauma

· Adanya riwayat infeksi telinga

· Adanya riwayat gangguan persyarafan.

· Adanya faktor pencetus seperti kelelahan, ketidak seimbangan psiko sosial

3) Pola fungsi Kesehatan

  • Perubahan pola istirahat (tidur)
  • Perubahan pola pemenuhan nutrisi
  • Perubahan neuro sensori

4) Pemeriksaan Fisik

  • Tekanan Darah : Tinggi atau rendah
  • Mata : adanya diplopia
  • Telinga : nyeri tekan, adanya cairan
  • Neurologis : tremor

5) Pemeriksaan Penunjang

  • Hasil CT – Scan : adanya tumor, adanya massa lain (seperti darah, cairan dan lain sebagainya)

V. Diagnosis Keperawatan

1) Gangguan pola pemenuhan nutrisi b/d mual muntah

2) Cedera (resiko tinggi terhadap) b/d vertigo

3) Kerusakan penilaian b/d ketidakmampuan yang memerlukan perubahan gaya hidup akibat vertigo yang tidak dapat diperkirakan

4) Kurang pengetahuan tentang penyakit dan penatalaksanaan b/d tidak terpajan informasi

5) Cemas b/d kurang pengetahuan atau ancaman/perubahan status kesehatan & efek ketidakmampuan vertigo

VI. Intervensi Keperawatan Dan Rasionalisasi

1) Dx Keperawatan : Gangguan pola pemenuhan nutrisi b/d mual muntah

Tujuan : Pola pemenuhan nutrisi kembali normal

Kriteria : Klien mampu menghabiskan menu dari RS

Klien tidak muntah setelah makan

Rencana:

· Jelaskan tentang nutrisi dan cara pemenuhannya

R/ agar klien kooperatif

· Kaji antropometri

R/ untuk mengetahui perkembangan status kesehatan klien dan dasar pelaksanaan tindakan selanjutnya

· Kaji tekanan darah dan nadi

R/ untuk mengetahui perkembangan status kesehatan klien dan dasar pelaksanaan tindakan selanjutnya

· Anjurkan untuk makan dalam porsi kecil tapi sering

R/ untuk mengurangi rangsang muntah

· Siapkan lingkungan yang menyenangkan

R/ agar mengurangi irritabilitas dan membantu klien mendapatkan kembali ”appettite”nya.

· Kolaborasi medis dalam pemberian obat anti emetik

R/ untuk mengurangi rangsang muntah

2) Dx Keperawatan : Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

Tujuan : Klien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya.

Kriteria : Klien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.

Klien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.

Rencana :

· Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit gagal ginjal kronik dan Hipertensi.

R./ Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga.

· Kaji latar belakang pendidikan pasien.

R./ Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien.

· Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.

R./ Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

· Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.

R./ Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang.

· Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan (jika ada / memungkinkan).

R./ Gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan

3) Dx Keperawatan : Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.

Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang.

Kriteria : Klien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan.

Emosi stabil., pasien tenang.

Istirahat cukup.

Rencana :

· Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.

R./ Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.

· Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya.

R./ Dapat meringankan beban pikiran pasien.

· Gunakan komunikasi terapeutik.

R./ Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan.

· Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan.

R./ Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien.

· Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.

R./ Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien.

· Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara bergantian.

R./ Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu.

· Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman

R./ Lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien.

Perencanaan dan Pengorganisasian Pelayanan Kesehatan

2.1. Pengertian Perencanaan

Perencanaan adalah proses mendefinisikan tujuan organisasi, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja organisasi. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan fungsi – fungsi lain pengorganisasian, pengarahan, dan pengontrolan tak akan dapat berjalan.

Rencana dapat berupa rencana informal atau rencana formal. Rencana informal adalah rencana yang tidak tertulis dan bukan merupakan tujuan bersama anggota suatu organisasi. Sedangkan rencana formal adalah rencana tertulis yang harus dilaksanakan suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu. Rencana formal merupakan rencana bersama anggota korporasi, artinya, setiap anggota harus mengetahui dan menjalankan rencana itu. Rencana formal dibuat untuk mengurangi ambiguitas dan menciptakan kesepahaman tentang apa yang harus dilakukan

Ada empat tujuan perencanaan yaitu :

1) Tujuan pertama adalah untuk memberikan pengarahan baik untuk manajer maupun karyawan nonmanajerial. Dengan rencana, karyawan dapat mengetahui apa yang harus mereka capai, dengan siapa mereka harus bekerja sama, dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. Tanpa rencana, departemen dan individual mungkin akan bekerja sendiri-sendiri secara serampangan, sehingga kerja organisasi kurang efesien.

2) Tujuan kedua adalah untuk mengurangi ketidakpastian. Ketika seorang manajer membuat rencana, ia dipaksa untuk melihat jauh ke depan, meramalkan perubahan, memperkirakan efek dari perubahan tersebut, dan menyusun rencana untuk menghadapinya.

3) Tujuan ketiga adalah untuk meminimalisir pemborosan. Dengan kerja yang terarah dan terencana, karyawan dapat bekerja lebih efesien dan mengurangi pemborosan. Selain itu, dengan rencana, seorang manajer juga dapat mengidentifikasi dan menghapus hal-hal yang dapat menimbulkan inefesiensi dalam perusahaan.

4) Tujuan yang terakhir adalah untuk menetapkan tujuan dan standar yang digunakan dalam fungsi selanjutnya, yaitu proses pengontrolan dan pengevalusasian. Proses pengevaluasian atau evaluating adalah proses membandingkan rencana dengan kenyataan yang ada. Tanpa adanya rencana, manajer tidak akan dapat menilai kinerja perusahaan.

Selain keempat hal tersebut, sebagian besar studi menunjukan adanya hubungan antara perencanaan dengan kinerja perusahaan

Perencanaan terdiri dari dua elemen penting, yaitu sasaran (goals) dan rencana itu sendiri (plan).

1) Sasaran

Sasaran adalah hal yang ingin dicapai oleh individu, grup, atau seluruh organisasi. Sasaran sering pula disebut tujuan. Sasaran memandu manajemen membuat keputusan dan membuat kriteria untuk mengukur suatu pekerjaan.

Sasaran dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sasaran yang dinyatakan (stated goals) dan sasaran riil. Stated goals adalah sasaran yang dinyatakan organisasi kepada masyarakat luas. Sasaran seperti ini dapat dilihat di piagam perusahaan, laporan tahunan, pengumuman humas, atau pernyataan publik yang dibuat oleh manajemen. Seringkali stated goals ini bertentangan dengan kenyataan yang ada dan dibuat hanya untuk memenuhi tuntutan stakeholder perusahaan. Sedangkan sasaran riil adalah sasaran yang benar-benar dinginkan oleh perusahaan. Sasaran riil hanya dapat diketahui dari tindakan-tindakan organisasi beserta anggotanya.

Ada dua pendekatan utama yang dapat digunakan organisasi untuk mencapai sasarannya. Pendekatan pertama disebut pendekatan tradisional. Pada pendekatan ini, manajer puncak memberikan sasaran-sasaran umum, yang kemudian diturunkan oleh bawahannya menjadi sub-tujuan (subgoals) yang lebih terperinci. Bawahannya itu kemudian menurunkannya lagi kepada anak buahnya, dan terus hingga mencapai tingkat paling bawah. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa manajer puncak adalah orang yang tahu segalanya karena mereka telah melihat gambaran besar perusahaan. Kesulitan utama terjadi pada proses penerjemahan sasaran atasan oleh bawahan. Seringkali, atasan memberikan sasaran yang cakupannya terlalu luas seperti "tingkatkan kinerja," "naikkan profit," atau "kembangkan perusahaan," sehingga bawahan kesulitan menerjemahkan sasaran ini dan akhirnya salah mengintepretasi maksud sasaran itu (lihat gambar).

Pendekatan kedua disebut dengan management by objective atau MBO. Pada pendekatan ini, sasaran dan tujuan organisasi tidak ditentukan oleh manajer puncak saja, tetapi juga oleh karyawan. Manajer dan karyawan bersama-sama membuat sasaran-sasaran yang ingin mereka capai. Dengan begini, karyawan akan merasa dihargai sehingga produktivitas mereka akan meningkat. Namun ada beberapa kelemahan dalam pendekatan MBO. Pertama, negosiasi dan pembuatan keputusan dalam pendekatan MBO membutuhkan banyak waktu, sehingga kurang cocok bila diterapkan pada lingkungan bisnis yang sangat dinamis. Kedua, adanya kecenderungan karyawan untuk bekerja memenuhi sasarannya tanpa mempedulikan rekan sekerjanya, sehingga kerjasama tim berkurang. Ada juga yang bilang MBO hanyalan sekedar formalitas belaka, pada akhirnya yang menentukan sasaran hanyalah manajemen puncak sendiri.

2) Rencana

Rencana atau plan adalah dokumen yang digunakan sebagai skema untuk mencapai tujuan. Rencana biasanya mencakup alokasi sumber daya, jadwa, dan tindakan-tindakan penting lainnya. Rencana dibagi berdasarkan cakupan, jangka waktu, kekhususan, dan frekuensi penggunaannya. Berdasarkan cakupannya, rencana dapat dibagi menjadi rencana strategis dan rencana operasional. Rencana strategis adalah rencana umum yang berlaku di seluruh lapisan organisasi sedangkan rencana operasional adalah rencana yang mengatur kegiatan sehari-hari anggota organisasi.

Berdasarkan jangka waktunya, rencana dapat dibagi menjadi rencana jangka panjang dan rencana jangka pendek. Rencana jangka panjang umumnya didefinisikan sebagai rencana dengan jangka waktu tiga tahun, rencana jangka pendek adalah rencana yang memiliki jangka waktu satu tahun. Sementara rencana yang berada di antara keduanya dikatakan memiliki intermediate time frame.

Menurut kekhususannya, rencana dibagi menjadi rencana direksional dan rencana spesifik. Rencana direksional adalah rencana yang hanya memberikan guidelines secara umum, tidak mendetail. Misalnya seorang manajer menyuruh karyawannya untuk "meningkatkan profit 15%." Manajer tidak memberi tahu apa yang harus dilakukan untuk mencapai 15% itu. Rencana seperti ini sangat fleksibel, namun tingkat ambiguitasnya tinggi. Sedangkan rencana spesifik adalah rencana yang secara detail menentukan cara-cara yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Selain menyuruh karyawan untuk "meningkatkan profit 15%," ia juga memberikan perintah mendetail, misalnya dengan memperluas pasar, mengurangi biaya, dan lain-lain.

2.2. Pengorganisasian

Pengorganisasian adalah tindakan untuk menata kembali bagian – bagian mengikuti satu atau beberapa peraturan. Sesuatu biasanya dikatakan terorganisir ketika segala sesuatu memiliki pengaturan yang tepat tentang penempatannya. Ada juga yang menyebutkan bahwa bisa dikatakan benar - benar terorganisir bila setiap bagian membutuhkan waktu yang sama untuk menemukannya. Dalam konteks pengertian ini, pengorganisasian didefinisikan sebagai penempatan objek berbeda dalam suatu pengaturan logis untuk pencarian termudah.

Organisasi sendiri diartikan sebagai kelompok orang – orang yang mengorganisir beberapa hal khusus seperti masalah politik, keuangan dan lain – lain. Jadi meskipun pengorganisasian bisa dilihat dalam sebuah definisi sederhana, namun bisa juga diartikan sebagai pengorganisasian informasi dunia.

Pengorganisasian adalah kumpulan dari pandangan yang dalam suatu manajemen dilakukan setelah perencanaan. Di dalamnya termasuk bentuk kesepakatan, pengelompokan tugas kedalam suatu bagian, dan kesepakatan tentang otoritas dan alokasi sumber daya di dalam suatu organisasi.

2.3. Perencanaan Dan Pengorganisasian Pelayanan Kesehatan

Institusi pelayanan kesehatan adalah suatu organisasi yang mempunyai tujuan menghasilkan suatu jenis produk yang berbentuk layanan kesehatan. Produk layanan ini ditujukan kepada pelanggan yang mempunyai karakteristik sangat majemuk. Untuk itu institusi pelayanan kesehatan memerlukan suatu manajemen yang cukup kompleks agar produk jasa layanan kesehatan yang dihasilkan sesuai dengan harapan pelanggan, memuaskan pelanggan dan pada akhirnya juga mencapai semua yang menjadi tujaun awal dari pendirian institusi tersebut.

Perencanaan dan pengorganisasian adalah 2 (dua) langkah penting dalam manajemen, termasuk dalam manajemen pelayanan kesehatan. Pihak manajemen pelayanan kesehatan harus merencanakan berbagai input (masukan) untuk proses pemberian layanan yang baik. Semua input yang ada merupakan sumberdaya utama pelaksanaan proses yang terdiri dari Hardware (perangkat keras) dan Software (perangkat lunak). Perangkat keras yang dimaksud adalah semua material yang dipakai selama proses pemberian layanan baik alat, bangunan atau juga bahan habis pakai. Perangkat lunak dalam suatu institusi pelayanan kesehatan adalah beberapa kesepakatan, aturan, prosedur pelayanan standar (SOP = standard operating procedure) dan lain sebagainya yang menjadi acuan pelaksanaan proses layanan.

Setelah semua sumberdaya direncanakan, institusi pelayanan kesehatan harus mulai memenuhi semua kebutuhan tersebut dan mengatur penempatan dan penggunaannya dengan baik. Inilah yang dimaksud dengan pengorganisasian dalam institusi pelayanan kesehatan. Termasuk di dalamnya adalah pengaturan personel pelaksana dan penanggung jawab pada setiap bagian / unit.

Bila perencanaan yang matang dan pengorganisasian yang baik telah dilakukan, maka intitusi pelayanan bisa mulai melakukan suatu kegiatan layanan kesehatan bagi semua pelanggannya